Sabtu, 04 Mei 2013

Fenomena sosial yang berkaitan dengan psikologi sosial pemerkosaan pada anak dibawah umur



Akhir-akhir ini publik digemparkan dengan berita kasus pemerkosaan anak di bawah umur. Salah satu yang cukup menggegerkan adalah kasus pemerkosaan terhadap seorang siswa kelas V SD (Sekolah Dasar) bernama Risa yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri. Pada kasus ini, tindak pemerkosaan justru diketahui belakangan, di mana saat Risa dirawat di rumah sakit mengalami demam tinggi dan kejang. Ketika dokter akan memberi obat kejang melalui (maaf) anusnya, baru diketahui bahwa alat kelaminnya mengalami infeksi. Saking parahnya infeksi yang diderita bocah berusia 11 tahun tersebut, mengakibatkannya meninggal dunia. Kasus pemerkosaan ini cukup menguras emosi publik. Banyak yang bersimpati dan turut prihatin atas peristiwa yang menimpa bocah tersebut. Tidak sedikit orang mengecam bahkan menghujat si pelaku yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri sebagai binatang biadab. Orang tua yang seharusnya memberikan perlindungan, tetapi justru memberikan penderitaan yang berakhir pada kematian.
Satu lagi yang tak kalah menggemparkan yakni kasus pemerkosaan terhadap seorang siswa kelas V SD yang terjadi di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Menggegerkan dan memprihatinkan karena pelakunya tak lain adalah teman sekolahnya sendiri sebanyak 5 orang. Pelaku dan korban sama-sama masih bocah yang berusia sekitar 11 hingga 13 tahun, tentu saja masih tergolong sebagai anak di bawah umur. Bagaimana mungkin bocah yang ‘seharusnya’ masih polos bisa berkelakuan mesum seperti itu? Bagaimana bisa mereka memiliki pikiran cabul, bahkan merealisasikannya dengan memperkosa temannya sendiri? Apa yang menyebabkan hasrat seksual anak-anak tersebut muncul di usia yang terbilang sangat belia? Beberapa pertanyaan tersebut bisa saja muncul dalam benak setiap orang yang membaca berita kasus pemerkosaan ini di media massa atau melihatnya di televisi.
Masih banyak kasus pemerkosaan terhadap anak di bawah umur yang terjadi. Namun, tentunya tidak akan dijabarkan semuanya di sini. Dua kasus yang disebut di atas hanya merupakan contoh bahwa kekerasan seksual terhadap anak dapat dikatakan sudah masuk dalam taraf mengkhawatirkan. Maraknya kasus pemerkosaan terhadap anak di bawah umur seolah telah menjadi sebuah fenomena bahkan ‘tren’. Kasus demi kasus mulai terkuak ke publik, entah pelaku atau korbannya adalah anak di bawah umur. Sungguh miris dan memilukan. Sebenarnya, apa yang menjadi penyebab maraknya kasus pemerkosaan terhadap anak? Siapa yang patut disalahkan atas tindak kriminal yang merusak masa depan anak korban pemerkosaan?
Peredaran film porno tanpa batas

Film porno yang beredar bebas tanpa batas disinyalir menjadi penyebab utama atas maraknya tindak pemerkosaan terhadap anak, termasuk pula pelakunya yang masih terbilang belia. Tidak dapat dipungkiri bahwa era globalisasi berdampak pada kebebasan akses teknologi dan informasi, salah satunya melalui jagat maya alias internet yang memang tanpa batas. Siapapun bisa mengakses beragam informasi yang dibutuhkan dan diinginkan melalui internet tanpa mengenal batas usia, termasuk anak-anak. Oleh sebab itu, anak menjadi lebih mudah mengakses konten-konten yang tidak seharusnya mereka konsumsi, terutama konten porno baik gambar maupun video.
Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa perkembangan teknologi semakin pesat. Banyak gadget dijual di pasaran dengan fitur lengkap, tetapi harga terjangkau. Lihat saja perkembangan teknologi ponsel (telepon seluler). Dari yang awalnya hanya memiliki fungsi komunikasi, kini telah dilengkapi dengan fungsi multimedia. Artinya, sebuah ponsel saat ini tidak hanya dapat digunakan untuk telepon dan mengirim SMS (Short Message Service) saja, tetapi juga bisa digunakan untuk memainkan musik atau lagu dalam format MP3, mengambil gambar atau memotret, merekam dan memainkan video, serta masih banyak lagi fungsi lainnya. Dulu, ponsel dengan fitur lengkap dibandrol dengan harga yang cukup mahal, apalagi yang berjenis smartphone. Namun sekarang, harga ponsel termasuksmartphone bak kacang rebus, murah sehingga dapat dijangkau oleh semua kalangan. Ibaratnya dengan uang kurang dari Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) sudah bisa mendapatkan sebuah ponsel dengan model terbaru dan pastinya memiliki fitur lengkap, setidaknya bisa untuk komunikasi dan hiburan multimedia.
Lantas, apa kaitannya ponsel dengan kasus pemerkosaan terhadap anak di bawah umur yang kerap terjadi akhir-akhir ini? Keberadaan fitur multimedia di dalam ponsel memudahkan penyebaran konten-konten tidak senonoh terutama video porno. Sebagai barang yang bersifat personal, tentu keberadaan video porno di dalam ponsel dapat dinikmati kapan saja dan di mana saja, tanpa sepengetahuan orang lain. Celakanya, ponsel tidak hanya dipergunakan oleh orang dewasa saja, tetapi juga anak-anak. Jadi, tidak tertutup kemungkinan anak juga bisa menikmati video porno di ponselnya dengan mudah. Melihat video porno dalam intensitas yang sering, bisa membangkitkan libido tidak hanya pada orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Jika tidak ada pasangan yang sah untuk menyalurkan gairah seksual tersebut, akibatnya terjadilah pemerkosaan. Dalam konteks anak, mungkin gairah seksual yang muncul tidak setinggi orang dewasa, tetapi bisa jadi dipicu oleh rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba, sehingga terjadilah tindak pemerkosaan oleh anak.
Dari mana anak memperoleh konten-konten yang mengandung unsur asusila termasuk video porno yang dapat merusak moralnya? Internet dan lingkungan pergaulan merupakan dua faktor yang patut diduga kuat sebagai sumber perolehan video porno. Melalui media ponsel, video porno dapat dengan mudah diakses dan dinikmati oleh anak-anak. Erotisme dan ekspresi yang disuguhkan dalam video porno tersebut merangsang libido anak, sehingga menimbulkan dorongan yang kuat untuk mencoba mempraktikkannya.
Diakui atau tidak, orang tua sebenarnya memiliki andil dalam peredaran film porno yang ditonton oleh anak. Hal ini memang tidak bisa digeneralisir, namun ada beberapa pasangan yang gemar menonton film porno untuk merangsang gairah seksualnya. Keberadaan film porno baik dalam format VCD ataupun DVD di dalam rumah kadang tidak disimpan di tempat tersembunyi, sehingga mudah dijangkau oleh anak.  Secara tidak sengaja, anak bisa menemukan dan menontonnya tentu tanpa sepengetahuan orang tua. Nah, di sinilah kelalaian orang tua. Saat orang tua sibuk di luar rumah, anak bisa dengan bebas melakukan apapun, termasuk menonton film porno.
Untuk mencegah peredaran konten porno lebih luas dan menghindari anak di bawah umur mengakses konten tersebut, sebenarnya pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah memblokir situs-situs porno yang beredar di dunia maya. Selain itu, Kemenkominfo juga menyediakan softwarekhusus yang diperuntukkan bagi para penyedia jasa warnet (warung internet) untuk memblokir konten-konten porno, sehingga tidak bisa lagi diakses dengan mudah. Namun, agaknya upaya pemerintah untuk menghalau penyebaran konten-konten yang berbau pornografi tersebut pada kenyataannya belum menunjukkan hasil maksimal. Buktinya, banyak masyarakat yang masih bisa dengan mudah memperoleh video-video porno baik melalui internet, VCD, DVD, ataupun ponsel.
Tinjauan psikologis

Maraknya kasus pemerkosaan dengan korban anak di bawah umur memang sungguh memilukan. Tindakan tersebut tidak hanya merusak masa depan korban, tetapi juga berpotensi mengganggu kejiwaan korban dan kehidupan sosialnya. Korban yang merasa dirinya telah ternoda mungkin tidak berani berbaur dengan lingkungan sosialnya, karena malu. Selain itu, gunjingan masyarakat sekitar bisa saja mengakibatkan korban semakin terpuruk. Jika hal ini berlangsung terus-menerus tanpa ada dukungan yang memicu keberanian korban untuk tampil kembali di depan publik, tidak tertutup kemungkinan korban justru akan mengalami gangguan kejiwaan sehingga mengakibatkannya depresi. Apa akibatnya lebih lanjut? Korban akan mengambil jalan pintas untuk mengakhiri penderitaannya, yakni dengan bunuh diri.
Dari sudut pandang psikologis, pemerkosaan terhadap anak di bawah umur umumnya dilakukan oleh orang terdekat, bisa keluarga baik itu ayah, paman, kakak, ataupun teman-temannya. Pelaku diduga mengalami depresi dengan kehidupannya sendiri. Kondisi tersebut menyebabkan pelaku mengalami penyimpangan sosial sehingga melampiaskannya kepada orang-orang terdekat. Oleh sebab itu, banyak ditemukan kasus-kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh kakak, paman, bahkan ayah kandung sendiri.
Keretakan hubungan rumah tangga yang memicu terjadinya perceraian juga ambil bagian dalam maraknya kasus pemerkosaan terhadap anak. Mengapa? Perceraian memunculkan ayah tiri yang notabene pengganti peran ayah kandung, tetapi justru menjadi perusak masa depan anak. Hal ini memang tidak bisa dipukul rata, dalam arti tidak semua ayah tiri identik dengan pelaku pemerkosaan. Namun, kebanyakan kasus pemerkosaan terhadap anak dilakukan oleh ayah tiri. Alasan yang dikemukakan beragam, ada yang tidak puas dengan ‘sang ibu’, ibu yang terlalu sibuk bekerja sehingga tidak bisa melayani ‘sang ayah’, khilaf, dan fedofilia. Fedofilia dapat dipahami sebagai suatu gangguan psikoseksual di mana orang dewasa menyukai anak-anak secara seksual. Dengan kata lain, orang dewasa mengalami kepuasan seksual bersama dengan anak di bawah umur. 
Patuh kepada orang tua memang merupakan kewajiban seorang anak. Namun, kepatuhan ini sering kali dimanfaatkan orang tua untuk mengintimidasi anak. Artinya, dengan dalih kepatuhan seolah orang tua memiliki hak sepenuhnya terhadap anak, termasuk dalam hal seksual. Anak yang masih polos dipaksa melayani dan memuaskan hawa nafsu ‘sang ayah’ karena didogma bahwa anak harus patuh pada orang tua. Dogma kepatuhan yang ditelan secara bulat-bulat oleh anak inilah yang menjadikannya tidak berani untuk mengadu atau bahkan sekadar bercerita kepada ibunya. Selain dogma kepatuhan yang sesat, anak juga tidak jarang diancam atau diiming-imingi sesuatu agar tetap tutup mulut. Di sini ada pertentangan antara kepatuhan dengan ketakutan yang dirasakan oleh anak. Jika anak buka mulut atas tindak pemerkosaan yang dialaminya, maka ia takut dianggap sebagai anak yang tidak patuh kepada orang tuanya. Di sisi lain, apabila anak terus menuruti kehendak bejat ‘sang ayah’, ia akan merasa tertekan dan mengalami ketidaknyamanan yang luar biasa. Semua itu akan bermuara pada gangguan perkembangan anak secara psikologis.
Peran orang tua dan masyarakat

Setiap orang tua pasti tidak menginginkan anaknya menjadi korban pemerkosaan baik oleh orang terdekat, teman, ataupun orang lain. Jika memang demikian, orang tua harus berperan dalam mendampingi dan memantau anak, tidak hanya perilaku tetapi juga lingkungan pergaulannya. Orang tua dituntut untuk senantiasa sadar atas setiap perubahan perilaku sang anak. Sebagai contoh, anak yang terbiasa riang dan senantiasa menikmati saat-saat berkumpul dengan keluarga, tiba-tiba berubah pendiam dan senang menyendiri. Di sini orang tua perlu menyelidiki penyebab perubahan sikap anak tersebut. Dikhawatirkan perubahan tersebut dipicu oleh tekanan lingkungan pergaulan atau justru keasyikan menonton video porno melalui ponselnya, sehingga ia mencuri-curi waktu untuk bisa menyendiri.
Tak dapat dipungkiri bahwa ponsel memiliki fungsi yang penting. Berkenaan dengan hal tersebut, saat ini banyak orang tua yang memberikan fasilitas ponsel kepada anaknya. Tujuan sederhana yakni untuk memudahkan komunikasi antara orang tua dengan anak, di mana orang tua bisa memantau keberadaan anak kapan saja. Sayangnya, pemberian fasilitas ponsel tersebut kurang didukung dengan pengawasan yang ketat. Artinya, orang tua jarang atau bahkan tidak pernah mengecek konten yang tersimpan dalam memori ponsel anaknya. Orang tua terlalu percaya pada kepolosan anak, sehingga tidak berpikir bahwa anak bisa menyimpan konten-konten porno karena pengaruh lingkungan pergaulannya.
Kesibukan orang tua bekerja disinyalir juga menyebabkan kurangnya perhatian kepada anak. Banyak orang tua berpikir bahwa selama anak merasa senang, maka semua dalam keadaan baik-baik saja. Kurangnya perhatian orang tua mendorong anak untuk mencari perhatian dari luar keluarga. Hal ini justru membahayakan, karena bisa saja anak terjerumus dalam lingkungan pergaulan yang tidak baik. Untuk mengantisipasi hal tersebut, sesibuk apapun orang tua sebaiknya tetap meluangkan waktu guna memperhatikan anak. Selain mempererat hubungan keluarga, perhatian orang tua kepada anak juga dapat meminimalisir munculnya pengaruh-pengaruh buruk dari lingkungan luar.
Berkenaan dengan pemberian fasilitas ponsel atau gadget lainnya seperti PC tablet,netbook, atau notebook kepada anak sebenarnya sah-sah saja, asal tetap dalam pantauan orang tua. Orang tua juga harus lebih bijaksana dalam memberikan fasilitas kepada anak. Sebatas fasilitas tersebut bermanfaat untuk menunjang proses belajarnya, silakan saja, namun lagi-lagi penggunaannya harus tetap dalam pengawasan orang tua. Untuk mengantisipasi peredaran video porno dalam ponsel anak, orang tua bisa memberikan fasilitas ponsel dengan fitur terbatas, tanpa dilengkapi dengan multimedia dan jaringan internet. Meskipun demikian, anak tetap diperkenankan untuk mengakses layanan multimedia dan internet, tetapi melalui media lain yang tersedia di rumah, sehingga orang tua bisa mengawasi penggunaannya. Jadi, pemberian fasilitas secara bijak kepada anak bisa meminimalisir bahkan menghindari kemungkinan terjadinya tindak pemerkosaan pada dan oleh anak.
Lantas, apa peran masyarakat dalam mencegah tindak pemerkosaan terhadap anak di bawah umur? Kasus pemerkosaan terhadap anak yang bagai fenomena gunung es ini mencerminkan lemahnya kontrol sosial masyarakat. Jiwa kebersamaan dan gotong royong dalam masyarakat Indonesia yang dulu dielu-elukan seolah sirna, berubah menjadi masyarakat yang individualis. Masyarakat cenderung tidak lagi mempedulikan lingkungan sekitar. Semua asyik dengan urusan dan kepentingannya sendiri. Jika terjadi suatu penyimpangan di lingkungan sekitarnya, masyarakat justru tutup mata seolah tidak melihat dan bisu karena tidak mau menegur pelaku penyimpangan tersebut. Contohnya, orang tua yang ‘menyekap’ anaknya dan melarangnya bermain dan bersosialisasi dengan tetangga sebenarnya sudah mengarah pada bentuk penyimpangan perilaku sosial. Atas penyimpangan ini, masyarakat sekitar tidak mau menegur, karena merasa hal itu bukan merupakan urusannya. Dengan lemahnya kontrol sosial ini menjadikan masyarakat tidak bisa mencegah terjadinya tindak penyimpangan lainnya, seperti pemerkosaan atau kekerasan dalam rumah tangga.

TUGAS 2


A. PENYESUAIAN DIRI
1. Pengertian
Pengertian penyesuaian diri adalah proses yang diharapi oleh individu dalam mengenal lingkungan yang baru. Menurut Schneider (dalam Partosuwido, 1993) penyesuaian diri merupakan kemampuan untuk mengatasi tekanan kebutuhan, frustrasi dan kemampuan untuk mengembangkan mekanisme psikologis yang tepat. Menurut Callhoun dan Acocella (dalam Sobur, 2003), penyesuaian dapat didefenisikan sebagai interaksi individu yang kontinu dengan diri individu sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia individu. Menurut pandangan para ahli diatas, ketiga faktor tersebut secara konstan mempengaruhi individu dan hubungan tersebut bersifat timbal balik mengingat individu secara konstan juga mempengaruhi kedua faktor lain.
Menurut Schneiders (1964), pengertian penyesuaian diri dapat ditiinjau dari tiga sudut pandang, yaitu:
  1. Penyesuaian sebagai adaptasi --- Menurut pandangan ini, penyesuaian diri cenderung diartikan sebagai usaha mempertahankan diri secara fisik, bukan penyesuaian dalam arti psikologis, sehingga ada kompleksitas kepribadian individu dengan lingkungan yang terabaikan.
  2. Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas --- Penyesuaian diri diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup konformitas terhadap suatu norma. Pengertian ini menyiratkan bahwa individu seakan-akan mendapat tekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baik secara moral, sosial maupun emosional. Menurut sudut pandang ini, individu selalu diarahkan kepada tuntutan konformitas dan diri individu akan terancam tertolak jika perilaku individu tidak sesuai dengan norma yang berlaku.
  3. Penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan --- Penyesuaian diri dipandang sebagai kemampuan untuk merencakan dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan dan frustasi tidak terjadi, dengan kata lain penyesuaian diri diartikan sebagai kemampuan penguasaan dalam mengembangkan diri sehingga dorongan emosi dan kebiasaan menjadi terkendali dan terarah.
Berdasarkan tiga sudut pandang tentang penyesuaian diri yang disebut diatas, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri dapat diartikan sebagai suatu proses yang mencakup suatu respon-respon mental dan perilaku yang diperjuangkan individu agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan, frustasi, konflik serta untuk menghasilkan kualitas keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dari dunia luar atau lingkungan tempat individu berada (Ali & Asrori, 2004).
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri adalah proses dinamik dalam interaksi individu dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan yang mencakup respon-respon mental dan perilaku untuk menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan, frustasi, konflik dan mencapai keselarasan antara tuntutan dari dalam diri dengan tuntutan dari luar diri individu.
2. Konsep
Makna akhir dari hasil pendidikan seseorang individu terletak pada sejauh mana hal yang telah dipelajari dapat membantunya dalam penyesuaian diri dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan pada tuntutan masyarakat. Seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan telah mampu menyesuaikan diri atau tidak mampu menyesuaikan diri, kondisi fisik, mental, dan emosional dipengaruhi dan diarahkan oleh faktor-faktor lingkungan dimana kemungkinan akan berkembang proses penyesuaian yang baik atau yang salah. Penyesuaian yang sempurna dapat terjadi jika manusia / individu selalu dalam keadaan seimbang antara dirinya dengan lingkungannya, tidak ada lagi kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan semua fungsi-fungsi organisme / individu berjalan normal. Namun, penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat, dan manusia terus menerus menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi sehat. Penyesuaian diri adalah suatu proses. Kepribadian yang sehat ialah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.
3. Pertumbuhan Personal
Manusia merupakan makhluk individu. Manusia itu disebut individu apabila pola tingkah lakunya bersifat spesifik dirinya dan bukan lagi mengikuti pola tingkah laku umum. Ini berarti bahwa individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas didalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Kepribadian suatu individu tidak sertamerta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang panjang. Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal itu membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor yang mempengaruhinya terutama lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat pun terdapat norma-norma yang harus di patuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan individu.
Pertumbuhan adalah proses yang mencakup pertambahan dalam jumlah dan ukuran, keluasan dan kedalaman. Prof. Gessel mengatakan, bahwa pertumbuhan pribadi manusia adalah proses yang terus-menerus. Semua pertumbuhan terjadi berdasarkan pertumbuhan yang terjadi sebelumnya.
Carl Rogers (1961) menyebutkan 3 aspek yang memfasilitasi pertumbuhan personal dalam suatu hubungan :
1.      Keikhlasan kemampuan untuk menyadari perasaan sendiri, atau menyadari kenyataan.
2.      Menghormati keterpisahan dari orang lain tanpa kecuali.
3.      Keinginan yang terus menerus untuk memahami atau berempati terhadap orang lain.

Faktor yang mempebgaruhi pertumbuhan personal :
1.      Faktor biologis
Karakteristik anggota tubuh yang berbeda setiap orang, kepribadian, atau warisan biologis yang sangat kental.
2.      Faktor geografis
Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorangdan nantinya akan menentukan baik atau tidaknya pertumbuhan personal seseorang.
3.      Faktor budaya
Tidak di pungkiri kebudayaan juga berpengaruh penting dalam kepribadian seseorang, tetapi bukan berarti setiap orang dengan kebudayaan yang sama memiliki kepribadian yang sama juga.
Seiring berjalannya waktu, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.
a. Aliran asosiasi
Perubahan terhadap seseorang secara bertahap karena pengaruh dan pengalaman atau empiri (kenyataan) luar, melalui panca indera yang menimbulkan sensasiton (perasaan) maupun pengalaman mengenai keadaan batin sendiri yang menimbulkan reflektion.
b. Psikologi gestalt
Pertumbuhan adalah proses  perubahan secara perlahan-lahan pada manusia dalam mengenal sesuatu secara keseluruhan, baru kemudian mengenal bagian-bagian dari lingkungan yang ada
   c. Aliran sosiologi
Pertumbuhan adalah proses sosialisasi yaitu proses perubahan dari sifat yang semula asosial     maupun sosial kemudian tahap demi tahap disosialisasikan. Pertumbuhan individu sangat penting untuk dijaga dari sejak lahir agar bisa tumbuh menjadi individu yang baik dan berguna untuk sesamanya.

B. STRESS
1. Pengertian Stres dan efek-efek stres (general adaption syndrom)
Efek stres menurut Hans Selye :
Hans Selye ( 1946 , 1976 ) telah melakukan riset terhadap 2 respon fisiologis tubuh terhadap stres yaitu : Local Adaptation Syndrome (LAS) dan General Adaptation Stres (GAS)
·      Local Adaptation Stres.
Tubuh menghasilkan banyak respon setempat terhadap stres. Respon setempat ini termasuk pembekuan darah dan penyembuhan luka, akomodasi cahaya, dll. Responnya berjangka pendek.
Karakteristik dari LAS :
v Respon yang terjadi hanya setempat dan tidak melibatkan semua system.
v Respon bersifat adaptif ; diperlukan stresor untuk menstimulasinya.
v Respon bersifat jangka pendek dan tidak terus menerus.
v Respon bersifat restorative.
Sebenarnya respon LAS ini banyak kita ketemui dalam kehidupan kita sehari – hari seperti yang diuraikan di bawah ini :
a.     Respon inflamasi
Respon ini distimulasi oleh adanya trauma dan infeksi. Respon ini memusatkan diri hanya pada area tubuh yang trauma sehingga penyebaran inflamasi dapat dihambat dan proses penyembuhan dapat berlangsung cepat. Respon inflamasi dibagi kedalam 3 fase :
v Fase pertama
Adanya perubahan sel dan sistem sirkulasi, dimulai dengan penyempitan pembuluh darah ditempat cedera dan secara bersamaan teraktifasinya kinin, histamin, sel darah putih. Kinin berperan dalam memperbaiki permeabilitas kapiler sehingga protein, leukosit dan cairan yang lain dapat masuk ketempat yang cedera tersebut.
v Fase kedua
Pelepasan eksudat. Eksudat adalah kombinasi cairan dan sel yang telah mati dan bahan lain yang dihasilkan ditempat cedera.
v Fase ketiga
Regenerasi jaringan dan terbentuknya jaringan parut.
b.     Respon refleks nyeri
Respon ini merupakan respon adaptif yang bertujuan melindungi tubuh dari kerusakan lebih lanjut. Misalnya mengangkat kaki ketika bersentuhan dengan benda tajam.
·      General Adaptation Syndrome (GAS)
Gas merupakan respon fisologis dari seluruh tubuh terhadap stres. Respon yang terlibat didalamnya adalah sistem saraf otonom dan sistem endokrin. Di beberapa buku tes GAS sering dinamakan dengan sistem neuroendokrin.
a.     Fase Alam (Waspada).
Melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan diri tubuh dan pikiran untuk menghadapi stressor. Reaksi psikologis “fight or flight” dan reaksi psikologis.
Tanda fisik : curah jantung meningkat, peredaran darah cepat, darah di perifer dan gastrointestinal mengalir ke kepala dan ekstremitas. Banyak organ tubuh terpengaruh, gejala stres memengaruhi denyut nadi, ketegangan otot dan daya tahan tubuh menurun. Fase alam melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh seperti pengaktifan hormon yang berakibat meningkatnya volume darah dan akhirnya menyiapkan individu untuk bereaksi. Hormon lainnya dilepas untuk meningkatkan kadar gula darah yang bertujuan untuk menyiapkan energi untuk keperluan adaptasi, teraktifasinya epineprin dan noreneprin mengakibatkan denyut jantung meningkat dan peningkatan aliran darah ke otot. Peningkatan ambilan O2 dan meningkatnya kewaspadaan mental.
Aktifitas hormonal yang luas ini menyiapkan individu untuk melakukan respon melawan atau menghindar. Respon ini bisa berlangsung dari menit sampai jam. Bila stressor masih menetap maka individu akan masuk ke dalam fase resistensi.
v Fase Resistance (Melawan)
Individu mencoba berbagai macam mekanisme penanggulangan psikologis dan pemecahan masalah serta mengatur strategi. Tubuh berusaha menyeimbangkan kondisi fisiologis sebelumnya kepada keadaan normal dan tubuh mencoba mengatasi faktor – faktor penyebab stres. Bila teratasi gejala stres menurun atau normal, tubuh kembali stabil, termasuk hormon, denyut jantung, tekanan darah, cardiac out put. Individu tersebut berupaya beradatasi terhadap stressor, jika ini berhasil tubuh akan memperbaiki sel – sel yang rusak. Bila gagal maka individu tersebut akan jatuh pada tahapan terakhir GAS yaitu : Fase kehabisan tenaga.
v Fase Exhaustion (Kelelahan)
Merupakan fase perpanjangan stres yang belum dapat tertanggulangi pada fase sebelumnya. Energi penyesuaian terkuras. Timbul gejala penyesuaian diri terhadap lingkungan seperti sakit kepala, gangguan mental, penyakit arteri koroner, dll. Bila usaha melawan tidak dapat lagi diusahakan, maka kelelahan dapat mengakibatkan kematian.
Tahap ini cadangan energi telah menipis atau habis, akibatnya tubuh tidak mampu lagi menghadapi stres. Ketidak mampuan tubuh untuk mempertahankan diri terhadap stressor inilah yang akan berdampak pada kematian individu tersebut.
2. Faktor faktor individual dan sosial yang menjadi penyebab stres
§  Faktor Individual.
Tatkala seseorang menjumpai stressor dalam lingkungannya, ada dua karakteristik pada stressor tersebut yang akan mempengaruhi reaksinya terhadap stressor itu yaitu : Berapa lamanya (duration) ia harus menghadapi stressor itu dan berapa terduganya stresor itu (predictability).
§  Faktor Sosial.
Selain peristiwa penting, ternyata tugas rutin sehari – hari juga berpengaruh terhadap kesehatan jiwa, seperti kecemasan dan depresi. Dukungan sosial turur mempengaruhi reaksi seseorang dalam menghadapi stress.
Dukungan sosial mencakup :
ü  Dukungan emosional, seperti rasa dikasihi.
ü  Dukungan nyata, seperti bantuan atau jasa, dan
ü  Dukungan informasi, misalnya nasehat dan keterangan mengenai masalah tertentu.
(Sumber : http://meltri-elia.blogspot.com/2011/04/stress-menurut-hans-selye.html)

3. 

JUMAT, 12 APRIL 2013


Tulisan 2



Pengertian Stres
1.     Arti pengertian stres
Efek stres menurut Hans Selye :
Hans Selye ( 1946 , 1976 ) telah melakukan riset terhadap 2 respon fisiologis tubuh terhadap stres yaitu : Local Adaptation Syndrome (LAS) dan General Adaptation Stres (GAS)
·      Local Adaptation Stres.
Tubuh menghasilkan banyak respon setempat terhadap stres. Respon setempat ini termasuk pembekuan darah dan penyembuhan luka, akomodasi cahaya, dll. Responnya berjangka pendek.
Karakteristik dari LAS :
v Respon yang terjadi hanya setempat dan tidak melibatkan semua system.
v Respon bersifat adaptif ; diperlukan stresor untuk menstimulasinya.
v Respon bersifat jangka pendek dan tidak terus menerus.
v Respon bersifat restorative.
Sebenarnya respon LAS ini banyak kita ketemui dalam kehidupan kita sehari – hari seperti yang diuraikan di bawah ini :
a.     Respon inflamasi
Respon ini distimulasi oleh adanya trauma dan infeksi. Respon ini memusatkan diri hanya pada area tubuh yang trauma sehingga penyebaran inflamasi dapat dihambat dan proses penyembuhan dapat berlangsung cepat. Respon inflamasi dibagi kedalam 3 fase :
v Fase pertama
Adanya perubahan sel dan sistem sirkulasi, dimulai dengan penyempitan pembuluh darah ditempat cedera dan secara bersamaan teraktifasinya kinin, histamin, sel darah putih. Kinin berperan dalam memperbaiki permeabilitas kapiler sehingga protein, leukosit dan cairan yang lain dapat masuk ketempat yang cedera tersebut.
v Fase kedua
Pelepasan eksudat. Eksudat adalah kombinasi cairan dan sel yang telah mati dan bahan lain yang dihasilkan ditempat cedera.
v Fase ketiga
Regenerasi jaringan dan terbentuknya jaringan parut.
b.     Respon refleks nyeri
Respon ini merupakan respon adaptif yang bertujuan melindungi tubuh dari kerusakan lebih lanjut. Misalnya mengangkat kaki ketika bersentuhan dengan benda tajam.
·      General Adaptation Syndrome (GAS)
Gas merupakan respon fisologis dari seluruh tubuh terhadap stres. Respon yang terlibat didalamnya adalah sistem saraf otonom dan sistem endokrin. Di beberapa buku tes GAS sering dinamakan dengan sistem neuroendokrin.
a.     Fase Alam (Waspada).
Melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan diri tubuh dan pikiran untuk menghadapi stressor. Reaksi psikologis “fight or flight” dan reaksi psikologis.
Tanda fisik : curah jantung meningkat, peredaran darah cepat, darah di perifer dan gastrointestinal mengalir ke kepala dan ekstremitas. Banyak organ tubuh terpengaruh, gejala stres memengaruhi denyut nadi, ketegangan otot dan daya tahan tubuh menurun. Fase alam melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh seperti pengaktifan hormon yang berakibat meningkatnya volume darah dan akhirnya menyiapkan individu untuk bereaksi. Hormon lainnya dilepas untuk meningkatkan kadar gula darah yang bertujuan untuk menyiapkan energi untuk keperluan adaptasi, teraktifasinya epineprin dan noreneprin mengakibatkan denyut jantung meningkat dan peningkatan aliran darah ke otot. Peningkatan ambilan O2 dan meningkatnya kewaspadaan mental.
Aktifitas hormonal yang luas ini menyiapkan individu untuk melakukan respon melawan atau menghindar. Respon ini bisa berlangsung dari menit sampai jam. Bila stressor masih menetap maka individu akan masuk ke dalam fase resistensi.
v Fase Resistance (Melawan)
Individu mencoba berbagai macam mekanisme penanggulangan psikologis dan pemecahan masalah serta mengatur strategi. Tubuh berusaha menyeimbangkan kondisi fisiologis sebelumnya kepada keadaan normal dan tubuh mencoba mengatasi faktor – faktor penyebab stres. Bila teratasi gejala stres menurun atau normal, tubuh kembali stabil, termasuk hormon, denyut jantung, tekanan darah, cardiac out put. Individu tersebut berupaya beradatasi terhadap stressor, jika ini berhasil tubuh akan memperbaiki sel – sel yang rusak. Bila gagal maka individu tersebut akan jatuh pada tahapan terakhir GAS yaitu : Fase kehabisan tenaga.
v Fase Exhaustion (Kelelahan)
Merupakan fase perpanjangan stres yang belum dapat tertanggulangi pada fase sebelumnya. Energi penyesuaian terkuras. Timbul gejala penyesuaian diri terhadap lingkungan seperti sakit kepala, gangguan mental, penyakit arteri koroner, dll. Bila usaha melawan tidak dapat lagi diusahakan, maka kelelahan dapat mengakibatkan kematian.
Tahap ini cadangan energi telah menipis atau habis, akibatnya tubuh tidak mampu lagi menghadapi stres. Ketidak mampuan tubuh untuk mempertahankan diri terhadap stressor inilah yang akan berdampak pada kematian individu tersebut.


Faktor – faktor individual dan sosial yang menjadi penyebab stres.
§  Faktor Individual.
Tatkala seseorang menjumpai stressor dalam lingkungannya, ada dua karakteristik pada stressor tersebut yang akan mempengaruhi reaksinya terhadap stressor itu yaitu : Berapa lamanya (duration) ia harus menghadapi stressor itu dan berapa terduganya stresor itu (predictability).
§  Faktor Sosial.
Selain peristiwa penting, ternyata tugas rutin sehari – hari juga berpengaruh terhadap kesehatan jiwa, seperti kecemasan dan depresi. Dukungan sosial turur mempengaruhi reaksi seseorang dalam menghadapi stress.
Dukungan sosial mencakup :
ü  Dukungan emosional, seperti rasa dikasihi.
ü  Dukungan nyata, seperti bantuan atau jasa, dan
ü  Dukungan informasi, misalnya nasehat dan keterangan mengenai masalah tertentu.
(Sumber : http://meltri-elia.blogspot.com/2011/04/stress-menurut-hans-selye.html)

3. Tipe – tipe stres.
Ø  Tekanan
Tekanan itu muncul tidak hanya dalam diri sendiri , bisa jadi dari luar diri, karena biasanya apa yang kita sukai bertentangan dengan apa yang menjadi pandangan orang tua dan ini bisa menjadi salah satu tekanan psikologis terhadap anak yang akan berdampak stress.
Ø  Frustasi
Suatu kondisi psikologis yang tidak menyenangkan sebagai akibat terhambatnya seseorang dalam mencapai apa yang di inginkannya .
Ø  Konflik
Konflik terjadi apabila ada perbedaan pendapat atau perbedaan cara pandang diantara beberapa orang, kelompok atau organisasi karena memiliki tujuan dan pandangan berbeda dalam upaya mencapai tujuan.
Ø  Kecemasan
Kecemasan itu suatu respon atau sinyal menyadarkan seseorang tentang prasaan khawatir , gelisah , dan takut yang sedang ia rasakan. Ini timbul dari emosi seseorang karena merasa tidak nyaman, tidak aman atau merasakan ancaman dan sering kali terjadi tanpa adanya penyebab yang jelas ini karena respon terhadap situasi yang kelihatannya tidak menakutkan atau bisa juga sebagai hasil rekaan.

4.  Pendekatan Problem Solving terhadap Stres
Strategi koping yang spontan menghadapi stres
Menurut saya pribadi, cara menangani stres adalah dengan berpikir tenang dan melakukan hal yang dapat dilakukan agar dapat mengurangi stres yang kita miliki, langkah tersebut tentu saja dengan menggunakan langkah yang positif bukanlah sebuah langkah negatif yang ujung – ujungnya hanya merugikan pihak lain.
Dan sebagai manusia, kita sudah seharusnya meminta bantuan kepada Yang Maha Kuasa dengan berdoa agar ditunjukkan jalan yang baik dan benar dalam kasus stres kita.


Rabu, 13 Maret 2013

KESEHATAN MENTAL

KONSEP SEHAT
Banyak diantara kita semua yang sering mendengar kata "sehat". Kata tersebut sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tidak banyak yang diantara kita yang mengartikan kata sehat yaitu dalam keadaan tidak sakit dan tidak stress. Pengartian tersebut tidak salah, tetapi mungkin masih banyak yang perlu kita telaah mengenai arti kata "sehat". Pada penulisan kali ini, saya akan menjelaskan lebih mendalam mengenai kesehatan mental yang ada dalam diri manusia.

Pertama-tama yang harus kita ketahui ialah mengenai Konsep Sehat. Konsep sehat terdiri dari 5 dimensi, yaitu berdasarkan :

  1. Dimensi Emosi : dimensi ini mencoba menjelaskan bahwa manusia dalam keadaan sehat yakni dalam keadaan mampu mengatur emosi nya sendiri. Emosi itu sendiri yang telah kita ketahui terdiri dari bermacam-macam jenis, yakni senang, gembira, bahagia, marah, sedih, dll. Mungkin sebagian dari kita masih banyak yang salah mengartikan arti kata emosi, seperti mengartikan emosi adalah suatu keadaan dimana seseorang merasa marah, entah kepada seseorang, keadaan, dll. Pada kenyataannya emosi itu tidak hanya dalam keadaan seseorang marah.
  2. Dimensi Intelektual : dimensi ini mencoba menjelaskan bahwa seseorang dalam keadaan sehat yakni dalam keadaan mampu menerima, menyerap segala macam pembelajaran, pendidikan yang di berikan baik secara langsung maupun tidak langsung, tanpa mengalami hambatan ataupun masalah yang mengganggu pikirannya. Selain itu seseorang juga mampu menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan nya.
  3. Dimensi Sosial : dimensi ini menjelaskan bahwa seseorang dalam keadaan sehat jika mampu berinteraksi, beradaptasi,  dengan sesama manusia dengan baik. Jika keadaan ini tidak mampu dilampaui oleh seseorang, berarti ada suatu ketidak sehatan dalam diri manusia tersebut.
  4. Dimensi Fisik dan Mental : dimensi ini menerangkan bahwa keadaan fisik dan mental seseorang menjadi salah satu syarat apakah seseorang dikatakan sehat atau tidak. Fisik seseorang, lebih menekannkan lebih kepada keadaan jasmani seseorang. Dimana seseorang mampu menjaga jasmani dirinya. Sedangkan mental, merupakan keadaan dimana seseorang harus mampu menjaga keadaan psikologi dirinya.
  5. Dimensi Spiritual : spiritual dalam dimensi ini menjelaskan bahwa seseorang mampu menjalankan ajaran agama yang telah di percaya atau diyakini seseorang untuk menuntun hidupnya. Dengan mampu menjalankan spiritual ini diharapkan seseorang dapat menjalankan segala kehidupannya dengan baik dan benar.
SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL
Secara etimologi, kesehatan mental atau hygiene berasal dari bahasa latin, yaitu : Mens atau Mentis yang berarti jiwa, roh, dan semangat. Hygiene yang berarti nama dewi kesehatan yunani yaitu Hyoeia

Secara Ilmiah
Beratus-ratus tahun yang lalu orang menduga bahwa penyebab penyakit mental adalah syaitan-syaitan, roh-roh jahat dan dosa-dosa. Oleh karena itu para penderita penyakit mental dimasukkan dalam penjara-penjara dibawah tanah atau dihukum dan diikat erat-erat dengan rantai besi yang berat dan kuat.
Sejarah ilmu kesehatan mental dimulai sewaktu Clifford Beers, bekas pasien mental di amerika menulis buku berjudul "A Mind That Found It Self". Dalam buku diceritakan pengalaman pahitnya sebagai pasien jiwa yang pernah dirawat beberapa RSJ.
Bapak Psikiater Amerika Adolf Meyer tergerak hatinya setelah membaca buku ini dan mengajak Beer bersama-sama mendirikan perhimpunan kesehatan mental bernama Hygiene Society di kota kelahiran Beer yaitu Connecticut. Tujuan dari usaha ini adalah untuk memperjuangkan perbaikan perlakuan pasien-pasien mental di RSJ yang ada pada zaman itu diperlakukan dengan buruk dan kurang manusiawi.
Gerakan ini mendapat simpati dari masyarakat sehingga muncul perhimpunan-perhimpunan lain di Amerika. Kemudian perhimpunan-perhimpunan tersebut bersama-sama membentuk The National Association for Mental Health.
Kongres kesehatan jiwa internasional yang pertama dilaksanakan di Washington DC pada tahun 1930 dan yang kedua dilaksanakan di Paris pada tahun 1937. Pada tahun ketiga tahun 1948 dibentuk The World Federation for Mental Health. Pada kongres ini, istilah mental hygiene diubah menjadi mental health.
Tokoh yang juga membela dan menjunjung tinggi hak manusia untuk penderita gangguan jiwa lainnya adalah Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris. Mereka adalah contoh orang yang berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi orang-orang yang terkena penyakit mental. Masa-masa Pinel dan Tuke ini selanjutnya dikenal dengan masa pra-ilmiah karena hanya usaha dan praksis yang mereka lakukan tanpa adanya teori-teori yang dikemukakan. Kemudian ada juga Dorothea Dix. Beliau merupakan seorang pionir wanita dalam usaha-usaha kemanusiaan berasal dari Amerika. Ia berusaha menyembuhkan dan memelihara para penderita penyakit mental dan orang-orang gila. Sangat banyak jasanya dalam memperluas dan memperbaiki kondisi dari 32 rumah sakit jiwa di seluruh negara Amerika bahkan sampai ke Eropa.


PENDEKATAN KESEHATAN MENTAL
Pendekatan kesehatan mental dapat dilihat dari beberapa sisi. Pada tulisan kali ini, saya akan menjelaskan pendekatan kesehatan mental dari 3 sisi, yaitu orientasi klasik, penyesuaian diri, dan juga pengembangan potensi.
  1. Orientasi Klasik : Orientasi klasik yang umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat adalah orang yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya tidak ada keluhan mental. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas. Orang-orang seperti itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesadaran dan tak mampu mengurus dirinya secara layak. Pengertian sehat mental dari orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi. Mengatasi kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata ‘sehat’. Sehat atau tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat digolongkan sehat mental. Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak sehat mental.
  2. Penyesuaian Diri : Dengan menggunakan orientasi penyesuaian diri, pengertian sehat mental tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh karena kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial dan budaya, kita tidak dapat menentukan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga pada hubungan antara individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam masyarakat tertentu digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi dianggap sangat sehat mental dalam masyarakat lain. Artinya batasan sehat atau sakit mental bukan sesuatu yang absolut. Berkaitan dengan relativitas batasan sehat mental, ada gejala lain yang juga perlu dipertimbangkan. Kita sering melihat seseorang yang menampilkan perilaku yang diterima oleh lingkungan pada satu waktu dan menampilkan perilaku yang bertentangan dengan norma lingkungan di waktu lain. Misalnya ia melakukan agresi yang berakibat kerugian fisik pada orang lain pada saat suasana hatinya tidak enak tetapi sangat dermawan pada saat suasana hatinya sedang enak. Dapat dikatakan bahwa orang itu sehat mental pada waktu tertentu dan tidak sehat mental pada waktu lain. Lalu secara keseluruhan bagaimana kita menilainya? Sehatkah mentalnya? Atau sakit? Orang itu tidak dapat dinilai sebagai sehat mental dan tidak sehat mental sekaligus. Dengan contoh tersebut dapat kita pahami bahwa tidak ada garis yang tegas dan universal yang membedakan orang sehat mental dari orang sakit mental. Oleh karenanya kita tidak dapat begitu saja memberikan cap ‘sehat mental’ atau ‘tidak sehat mental’ pada seseorang. Sehat atau sakit mental bukan dua hal yang secara tegas terpisah. Sehat atau tidak sehat mental berada dalam satu garis dengan derajat yang berbeda. Artinya kita hanya dapat menentukan derajat sehat atau tidaknya seseorang. Dengan kata lain kita hanya bicara soal ‘kesehatan mental’ jika kita berangkat dari pandangan bahwa pada umumnya manusia adalah makhluk sehat mental, atau ‘ketidak-sehatan mental’ jika kita memandang pada umumnya manusia adalah makhluk tidak sehat mental. Berdasarkan orientasi penyesuaian diri, kesehatan mental perlu dipahami sebagai kondisi kepribadian seseorang secara keseluruhan. Penentuan derajat kesehatan mental seseorang bukan hanya berdasarkan jiwanya tetapi juga berkaitan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan seseorang dalam lingkungannya.
  3. Pengembangan Potensi : Seseorang dikatakan mencapai taraf kesehatan jiwa, bila ia mendapat  kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan, ia bisa dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri. Dalam psiko-terapi (Perawatan Jiwa) ternyata yang menjadi pengendali utama dalam setiap tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah akal pikiran semata-mata, akan tetapi yang lebih penting dan kadang-kadang sangat menentukan adalah perasaan. Telah terbukti bahwa tidak selamanya perasaan tunduk kepada pikiran, bahkan sering terjadi sebaliknya, pikiran tunduk kepada perasaan. Dapat dikatakan bahwa keharmonisan antara pikiran dan perasaanlah yang membuat tindakan seseorang tampak matang dan wajar. Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan Hygiene mental atau kesehatan mental adalah mencegah timbulnya gangguan mental dan gangguan emosi, mengurangi atau menyembuhkan penyakit jiwa serta memajukan jiwa. Menjaga hubungan sosial akan dapat mewujudkan tercapainya tujuan masyarakat membawa kepada tercapainya tujuan-tujuan perseorangan sekaligus. Kita tidak dapat menganggap bahwa kesehatan mental hanya sekedar usaha untuk mencapai kebahagiaan masyarakat, karena kebahagiaan masyarakat itu tidak akan menimbulkan kebahagiaan dan kemampuan individu secara otomatis, kecuali jika kita masukkan dalam pertimbangan kita, kurang bahagia dan kurang menyentuh aspek individu, dengan sendirinya akan mengurangi kebahagiaan dan kemampuan sosial.

TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
Sebelum kita mengetahui lebih dalam mengenai kepribadian sehat dan teori-teori apa yang telah diungkapkan oleh beberapa tokoh, saya akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai pengertian kepribadian itu sendiri.

Kalau orang telah memilih istilah kepribadian, selanjutnya masih perlu ditunjukkan bahwa istilah kepribadian lebih tepat daripada istilah teori kepribadian.
Kepribadian sudah jelas, bahwa kepribadian itu mempunyai arti deskripsi, namun masih ada kemungkinan pembuatan deskripsi itu dilakukan dari berbagai sudut pandang ilmu pengetahuan ataupun sudut pandang yang lain. Karena itu supaya lebih jelas mengenai sasarannya, yaitu bahwa orang mempersoalkan kepribadian itu dalam arti psikologis, jadi dari sudut pandang psikologi, baiklah secara eksplisit digunakan istilah psikologi kepribadian


Teori Aliran Psikoanalisis
Tokoh yang pertama kali mencetuskan teori kepribadian sehat menurut Aliran Psikoanalisis adalah Sigmund Freud. Ia disebut sebagai Bapak Psikoanalisis, dilahirkan di Moravia pada tanggal 6 Mei 1856 dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939. Pokok-pokok teori Freud mengenai kepribadian yaitu :

Menurutnya, kepribadian terdiri dari tiga sistem atau aspek, yaitu :
  • Das Es (the Id), yaitu aspek biologi dan merupakan sistem orginal di dalam kepribadian; dan aspek inilah kedua aspek yang lain tumbuh. Freud menyebutnya juga realitas psikis yang sebenar-benarnya (The True Psychic Reality), oleh karena Id itu merupakan dunia batin atau subyektif manusia, dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia obyektif. Id berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir (unsur-unsur biologis), termasuk instink-instink.
  • Das Ich (the Ego), yaitu aspek psikologis daripada kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (Realitat). Orang yang lapar mesti perlu makan untuk menghilangkan tegangan yang ada dalam dirinya; ini berarti bahwa organisme harus dapat membedakan antara khayalan tentang makanan dan kenyataan tentang makanan.
  • Das Ueber Ich (the Superego), yaitu aspek sosiologi kepribadian, merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya, yang di masukkan (diajarkan) dengan berbagai perintah dan larangan. Superego lebih menekankan pada kesempurnaan daripada kesenangan; karena itu dianggap sebagai aspek moral kepribadian. Fungsi pokoknya ialah menentukan apakah sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak, dan dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat.

Teori Aliran Behavioristik
Behaviorisme juga disebut psikologi S – R (stimulus dan respon). Behaviorisme menolak bahwa pikiran merupakan subjek psikologi dan bersikeras bahwa psokologi memiliki batas pada studi tentang perilaku dari kegiatan-kegiatan manusia dan binatang yang dapat diamati. Teori Behaviorisme sendiri pertama kali diperkenalkan oleh John B. Watson (1879-1958)

Aliran behaviorisme mempunyai 3 ciri penting, yaitu :
  1. Menekankan pada respon-respon yang dikondisikan sebagai elemen dari perilaku
  2. Menekankan pada perilaku yang dipelajari dari pada perilaku yang tidak dipelajari. Behaviorisme menolak kecenderungan pada perilaku yang bersifat bawaan.
  3. Memfokuskan pada perilaku binatang. Menurutnya, tidak ada perbedaan alami antara perilaku manusia dan perilaku binatang. Kita dapat belajar banyak tentang perilaku kita sendiri dari studi tentang apa yang dilakukan binatang.

Menurut penganut aliran ini perilaku selalu dimulai dengan adanya rangsangan yaitu berupa stimulus dan diikuti oleh suatu reaksi beupa respons terhadap rangsangan itu. Salah satu penganut watson yang sangat besar masukannya untuk perkembangan behaviorisme adalah B.F. Skinner. Aliran ini memandang manusia seperti mesin yang dapat dikendalikan perilakunya lewat suatu pengkondisian. Ini menganggap manusia yang meberikan respon positif yang berasal dari luar. Dalam aliran ini manusia di anggap tidak memiliki sikap diri sendiri.
Jadi menurut Behaviorisme manusia dianggap memberikan respons secara pasif terhadap stimulus-stimulus dari luar. Kepribadian manusia sebagai suatu sistem yang bertingkah laku menurut cara yang sesuai peraturannya dan menganggap manusia tidak memiliki sikap diri sendiri.
Kepribadian yang sehat menurut behavioristik:
  1. Memberikan respon terhadap faktor dari luar seperti orang lain dan lingkungannya
  2. Bersifat sistematis dan bertindak dengan dipengaruhi oleh pengalaman
  3. Sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, karena manusia tidak memiliki sikap dengan bawaan sendiri
  4. Menekankan pada tingkah laku yang dapat diamati dan menggunakan metode yang obyektif

Teori Aliran Humanistik
Dalam psikologi humanistic tidak terlalu banyak mengeluarkan teori, karena pada dasarnya pendekatan humanistik menempel pada psikoanalisa dan behavioristik namun tidak semata-mata menempel/melekat pada aliran-aliran ini, aliran humanistic melekat tetapi tidak sepikir oleh kedua aliran ini, menurut teori humanistic manusia dilahirkan kedalam dunia dengan membawa faktor genetika kemudian faktor bawaan itu berkembang, bersama individu yang mulai tumbuh sehingga faktor-faktor lingkungan mempunyai andil dalam perkembangan kepribadian. Dengan kata lain aliran humanistik  ini ingin mengatakan peranan faktor kognitif dan lingkungan berpengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian individu.
Individu dituntut untuk untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri untuk mencapai yang dinamakan kepribadian sehat. Bukan saja mengandalakan pengalaman pengalaman yang terbentuk pada masa lalu atau membiarkan diri terjebak dalam suatu ingatan-ingatan pada tahap sebelumnya dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.

Menurut paham humanistic hal ini bukanlah pencerminan dari kepribadian sehat. Ciri dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu yang termaginalisasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya.



Pendapat Allport
Allport lebih optimis tentang kodrat manusia daripada Freud, dan ia memperlihatkan suatu keharuan yang luar biasa terhadap manusia, sifat-sifatnya yang tampaknya bersumber pada masa kanak-kanaknya. Orangtuanya menekankan pentingnya kerja keras dan kesalehan, dan mereka membentuknya dengan suasana aman dan kasih sayang. Semangat perikemanusiaan ditanamkan dalam keluarga mereka dan Allport yang muda itu didorong untuk mencari jawaban-jawaban keagamaan terhadap pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah kehidupan. Pengalaman-pengalaman pribadinya ini kelak tercermin dalam pandangan-pandangan teoritisnya tentang kodrat kepribadian.

Seperti dikemukakan, pandangan-pandangan pribadi dan professional dari Allport berbeda dengan pandangan-pandangan Freud dan gambaran kodrat manusia  yang diutarakan Allport adalah positif, penuh harapan, dan menyanjung-nyanjung. Karena itu salah satu pendekatan yang berguna terhadap pemahaman segi pandangan psikologis Allport adalah mengemukakan tema-tema pokok dari teorinya tentang kepribadian dan menunjukkan bagaimana tema-tema itu berbeda dari apa yang terdapat pada Freud.
Kepribadian menurut Allport adalah individu yang dewasa yang berkepribadian sehat, ia tidak percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat dikontrol oleh kekuatan ketidaksadaran, sesuatu kekuatan yang tidak dapat terlihat. Allport menekankan kepribadian pada individu yang memiliki “Intensional”. Intensional terdiri dari visi&misi, tujuan jangka panjang, sensasi/tantangan dan tegangan-tegangan yang semakin lama ditambah. Namun bukan kebahagiaan maksud daripada intensional ini, karena kebahagiaan dapat merupakan hasil dari integrasi kepribadian dalam mencari intensional
Allport mengungkapkan “Princple of organizing the energy level” yang berarti prinsip pengaturan tingkat energy. Orang yang matang/sehat secara terus menerus membutuhkan motif kekuatan dan daya hidup yang cukup (Penambahan tegangan, dan sensasi). Kemudian ia juga menyatakan “Principle of mastery and competence” disini ia mengindikasikan orang-orang yang matang tidak cukup puas dengan melaksanakan atau mencapai tingkatan-tingkatan yang sedang atau yang hanya memadai. Individu didorong untuk terampil melakukan sedapat mungkin mencapai/memenuhi tingkat penguasaan dan kemampuan yang tinggi dalam usaha pemenuhan motif-motif (Visi&misi, tujuan jangka panjang, tegangan yang semakin ditambah). Individu yang sehat tidak pernah berhenti mengejar point dalam tujuan mereka, setiap point yang jatuh dalam tujuan mereka selalu diganti oleh point dengan tujuan yang lain.
Tingkatan proprium/self
  1. Kesadaran akan “saya secara jasmaniah”.
  2. Identitas diri.
  3. Harga diri. Kebutuhan anak akan otonomi. Disini individu masih dalam tahap perkembangan anak. Yang mengalami konflik autonomy vs shame & doubt.
  4. Perluasan diri.
  5. Gambaran diri. Terbentuk/berkembang dari interaksi orangtua dan anak. Dalam mempelejari interaksi ini anak melakukan suatu perumusan tentang intensi.
  6. Rational thinking. Individu menyadari bahwa ia dapat memecahkan suatu msalah dengan menggunakan proses yang logis dan rasional.
  7. Propriate Striving. Terjadi pada saat individu memasuki masa adolescence. Karena telah memiliki pemahaman akan arti hidup sepenuhnya.

Pendapat Rogers
Pada dasarnya menurut Rogers, kepribadian yang sehat adalah ketika seseorang berfungsi secara sepenuhnya. Rogers menempatkan suatu dorongan - "satu kebutuhan fundamental" - dalam sistemnya tentang kepribadian: memeliharakan, mengaktualisasikan dan meningkatkan semua segi individu. Kecenderungan ini dibawa sejak lahir dan meliputi komponen-komponen pertumbuhan fisiologis dan psikologis, meskipun selama bertahun-tahun awal kehidupan, kecenderungan tersebut lebih terarah kepada segi-segi fisiologis.
Tidak ada segi pertumbuhan dan perkembangan manusia beroperasi secara terlepas dari kecenderungan aktualisasi ini. Pada tingkat-tingkat yang lebih rendah, kecenderungan aktualisasi berkenaan dengan kebutuhan fisiologis dasar akan makanan, air, dan udara. Karena itu kecenderungan aktualisasi itu memungkinkan organisme hidup terus dengan membantu dan mempertahankan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah dasar.
Akan tetapi aktualisasi berbuat jauh lebih banyak daripasa mempertahankan organisme; aktualisasi juga memudahkan dan meningkatkan pematangan dan pertumbuhan. Jiak bayi bertambah besar, organ-organ tubuh dan proses-proses fisiologis menjadi semakin kompleks dan berdiferensiasi karena mereka mulai berfungsi dalam arah-arah yang dituju. Proses pematangan ini mulai dengan perubahan-perubahan dalam ukuran dan bentuk dari bayi yang baru lahir sampai pada perkembangan sifat-sifat jenis kelamin sekunder pada masa remaja.
Pematangan yang penuh itu tidak dicapai secara otomatis, meskipun fakta bahwa "blue-print" bagi proses pematangan terkandung dalam struktur genetis individu. Proses itu memerlukan banyak usaha; Rogers membandingkannya dengan perjuangan dan rasa sakit yang terjadi ketika seorang anak belajar berjalan. Anak itu tersandung dan jatuh serta merasa sakit. Akan lebih mudah dan kurang merasa sakit kalau tidak berusaha untuk berdiri dan belajar berjalan. Walaupun demikian anak itu masih terus berusaha dan akhirnya berhasil. Apa sebabnya anak itu pantang mundur? Rogers berpendapat bahwa kecenderungan untuk aktualisasi sebagai suatu tenaga pendorong adalah jauh lebih kuat daripada rasa sakit dan perjuangan serta setiap dorongan yang ikut menghentikan usaha untuk berkembang.

Pendapat Maslow
Dalam pandangan Maslow, semua manusia memiliki perjuangan atau kecenderungan yang dibawa sejak lahir untuk mengaktualisasikan-diri. Akan tetapi ada lebih banyak hal yang terkandung dalam teorinya tentang dorongan manusia. Kita didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal dan yang dibawa sejak lahir, yang tersusun dalam suatu tingkat, dari yang paling kuat sampai kepada yang paling lemah. Kita dapat berpikir tentang tingkat kebutuhan-kebutuhan diri Maslow seperti suatu tangga, kita harus meletakkan kaki pada anak tangga pertama sebelum berusaha mencapai anak tangga kedua, dan pada anak tangga kedua sebelum anak tangga ketiga dan seterusnya. Dengan cara yang sama juga, kebutuhan yang paling rendah dan paling kuat harus dipuaskan sebelum muncul kebutuhan tingkat kedua dan seterusnya naik tingkat sampai muncul kebutuhan kelima dan yang paling tinggi - aktualisasi diri.
Jadi, prasyarat untuk menccapai aktualisasi diri ialah memuaskan empat kebutuhan yang berada dalam tingkat yang lebih rendah:
  1. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis
  2. Kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman
  3. Kebutuhan-kebutuhan akan memiliki dan cinta
  4. Kebutuhan-kebutuhan akan penghargaan
Kebutuhan-kebutuhan ini harus sekurang-kurangnya sebagian dipuaskan dalam urutan ini, sebelum timbul kebutuhan aktualisasi diri.

Pandangan Erich Fromm
Sebagai organisme yang hidup, kita didorong untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisiologis dasar akan kelaparan, kehausan, dan seks. Apa yang penting dalam mempengaruhi kepribadian ialah kebutuhan-kebutuhan psikologis. Semua manusia sehat dan tidak sehat didorong oleh kebutuhan-kebutuhan tersebut, perbedaan antara mereka terletak dalam cara bagaimana kebutuhan-kebutuhan ini dipuaskan. Orang-orang yang sehat memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis secara kreatif dan produktif. Orang-orang yang sakit memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan cara-cara irasional.

Fromm mengemukakan lima kebutuhan yang berasal dari dikotomi kebebasan dan keamanan :
  1. Hubungan : Manusia menyadari hilangnya ikatan utama dengan alam dan dengan satu sama lain. Kita mengetahui bahwa kita masing-masing terpisah sendirian, dan tak berdaya. Sebagai akibatnya, kita harus mencari ikatan-ikatan baru dengan orang lain, kita harus menemukan suatu perasaan hubungan dengan mereka untuk menggantikan ikatan-ikatan kita yang hilang dengan alam. Fromm percaya bahwa pemuasan kebutuhan untuk berhubungan atau bersatu dengan orang-orang lain ini sangat penting untuk kesehatan psikologis. Ada beberapa cara untuk menemukan hubungan. Beberapa cara adalah destruktif (tidak sehat), dan cara-cara lainnya konstruktif (sehat). Seseorang dapat berusaha untuk bersatu dengan dunia dengan bersikap tunduk kepada orang lain, kepada suatu kelompok, atau kepada sesuatu yang ideal, seperti Tuhan. Dengan menundukan diri, orang tidak lagi sendirian, tetapi menjadi milik dari seseorang atau sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Kemungkinan lain seseorang dapat berusaha untuk berhubungan dengan dunia dengan menguasainya, dengan memaksa orang-orang lain tunduk kepadanya. Cara yang sehat untuk berhubunagn dengan dunia adalah melalui cinta. Cinta memuaskan kebutuhan akan keamanan dan juga menimbulkan sesuatu perasaan integritas dan individualitas. Fromm tidak mendefinisikan cinta semata-mata dalam pengertian erotis, definisinya meliputi cinta orangtua terhadap anak, cinta kepada diri sendiri, dan dalam pengertian yang lebih luas, solidaritas dengan semua orang dan mencintai mereka.
  2. Trasendensi : Erat hubungannya dengan kebutuhan hubungan ialah kebutuhan manusia untuk mengatasi atau melebihi peranan-peranan pasif sebagai ciptaan. Karena menyadari kodrat kelahiran dan kematian aksidental dan watak eksistensi yang serampangan, manusia didorong untuk melebihi keadaan tercipta menjadi pencipta, pembentuk yang aktif dari kehidupannya sendiri. Fromm percaya bahwa dalam perbuatan menciptakan (anak-anak, ide-ide, kesenian, atau barang-barang material) manusia mengatasi kodrat eksistensi yang pasif dan aksidental, dengan demikian mencapai suatu perasaan akan maksud dan kebebasan. Menciptakan ialah cara ideal atau sehat untuk melebihi keadaan binatang yang pasif yang tidak diterima oleh manusia karena kemampuan pikiran dan daya khayalnya. Tetapi apa yang terjadi apabila seseorang tidak mampu menjadi kreatif ? kebutuhan akan transendensi harus dipuaskan apabila tidak dengan suatu cara yang sehat maka dengan suatu cara yang tidak sehat. Fromm percaya bahwa jalan lain untuk kreativitas ialah destruktivitas. Destruktivitas , misalnya kreativitas, merupakan suatu keterlibatan aktif dengan dunia. Inilah satu-satunya pilihan yang dimiliki seseorang, yakni menciptakan atau membinasakannya, mencintai atau membenci, tidak ada cara-cara lain untuk mencapai transendensi. Destruktivitas dan kreativitas keduanya berakar secara mendalam pada kodrat manusia. Akan tetapi, kreativitas merupakan potensi utama dan menyebabkan kesehatan psikologis.
  3. Berakar : Cara yang ideal adalah membangun suatu perasaan persaudaraan dengan sesama umat manusia, suatu perasaan keterlibatan, cinta, perhatian, dan partisipasi dalam masyarakat. Perasaan solidaritas dengan orang-orang lain ini memuaskan kebutuhan untuk berakar, untuk berkoneksi da berhubungan dengan dunia. Cara yang tidak sehat untuk berakar ialah dengan memelihara ikatan-ikatan sumbang masa kanak-kanak dengan ibu. Sedikit banyak, orang yang demikian tidak pernah sanggup meninggalkan rumah dan terus berpegang teguh pada keamanan ikatan-ikatan keibuan. Ikatan-ikatan sumbang dapat meluas melampaui hubungan anak-ibu dan memasukan seluruh kelompok keluarga. Dengan mepertahankan ikatan-ikatan sumbang dalam setiap tingkat, seseorang menutup pengalaman-pengalaman tertentu dan membatasi cinta dan solidaritas hanya untuk beberapa manusia. Situasi ini tidak membiarkan perhatian, pembagian, dan partisipasi penuh dengan dunia pada umumnya yang merupakan suatu syarat untuk kesehatan psikologis. Seseorang yang hanya mencintai beberapa orang, yang merasakan suatu perasaan persaudaraan dengan suatu bagian kemanusiaan yang terbatas, tidak sanggup mengembangkan seluruh potensi manusianya.
  4. Perasaan identitas : Manusia juga membutuhkan suatu perasaan identitas sebagai individu yang unik, suatu identitas yang menempatkannya terpisah dari orang-orang lain dalam hal perasannya tentang dia, siapa dan apa. Cara yang sehat untuk memuaskan kebutuhan ini adalah individualitas, proses dimana seseorang mencapai suatu perasaan tertentu tentang identitas diri. Sejauh mana kita masing-masing mengalami suatu perasaan yang unik tentang diri (selfhood) tergantung pada bagaimana kita berhasil memutuskan iaktan-ikatan sumbang dengan keluarga, suku, atau bangsa kita. Orang-orang dengan perasaan individualitas yang berkembang baik mengalami diri mereka seperti lebih mengontrol kehidupan mereka sendiri, dan kehidupan mereka tidak dibentuk oleh orang-orang lain. Dengan cara ini, identitas ditentukan berdasarkan kualitas-kualitas suatu kelompok, bukan berdasarkan kualitas-kualitas diri. Dengan melekat pada norma-norma, nilai-nilai, dan tingkah laku kelompok-kelompok itu, seseorang benar-benar menemukan semacam identitas.
  5. Kerangka orientasi : Dasar yang ideal untuk kerangka orientasi adalah pikiran, yakni sarana yang digunakan seseorang untuk mengembangkan suatu gambaran realistis yang objektif tentang dunia. Yang terkandung dalam hal ini ialah kapasitas untuk melihat dunia (termasuk diri) secara objektif, untuk menggambarkan dunia dengan tepat dan tidak mengubahnya dengan lensa-lensa subjektif dari kebutuhan-kebutuhan dan ketakutan-ketakutan orang sendiri. Fromm sangat mementingkan persepsi objektif tentang kenyataan. Semakin objektif persepsi kita, semakin juga kita berhubungan dengan kenyataan, jadi semakin matang dan semakin tangkas pula kita dalam menanggulangi dunia luar. Pikiran harus dikembangkan dan diterapkan dalam semua segi kehidupan. Suatu yang kurang ideal dalam membangun suatu kerangka orientasi adalah lewat irasionalitas. Hal ini, meyangkut suatu pandangan subjektif tentang dunia, peristiwa-peristiwa, dan pengalaman-pengalaman dilihat tidak menurut apa adanya tetapi menurut apa yang diinginkan orang terhadapnya. Tentu saja, suatu kerangka subjektif juga memberikan suatu gambaran dunia. Meskipun kerangka subjektif mungkin merupakan khyalan tetapi tetap riil bagi individu yang mempertahankannya.

Kodrat Kepribadian Yang Sehat

Orang-orang yang demikian mencintai sepenuhnya, kreatif, memiliki kemampuan-kemampuan pikiran yang sangat berkembang, mengamati dunia dan diri secara objektif, memiliki suatu perasaan identitas yang kuat, berhubungan dan berakar dengan dunia, subjek atau pelaku dari diri dan nasib, dan bebas dari ikatan-ikatan sumbang.
Fromm menyebut kepribadian yang sehat adalah orientasi produktif. Konsep itu menggambarkan penggunaan yang sangat penuh atau realisasi dari potensi manusia. Dengan menggunakan kata “orientasi”, Fromm menunjukkan bahwa kata itu merupakan suatu sikap umum atau segi pandangan yang meliputi semua segi kehidupan, renspons-respons intelektual, emosional, dan sensoris terhadap orang-orang, benda-benda, dan peristiwa-peristiwa didunia dan terhadap diri.
Menjadi produktif berarti orang menggunakan semua tenaga dan potensinya. Kata “produktif” mungkin menyesatkan karena kita cenderung memikirkan kata itu dalam pengertian manghasilkan sesuatu seperti barang-barang material, karya-karya seni atau ide-ide. Fromm mengartikan kata itu jauh lebih luas daripada ini. Mungkin berguna kalau memikirkan produktivitas itu sinonim dengan berfungsi sepenuhnya, mengaktualisasikan diri, mencintai, keterbukaan, dan mengalami. Orang-orang sehat menciptakan diri mereka dengan melahirkan semua potensi mereka, dengan menjadi semua menurut kesanggupan mereka, dengan memenuhi semua kapasitas mereka.
Empat segi tambahan dalam kepribadian yang sehat dapat membantu menjelaskan apa yang dimaksudkan Fromm dengan orientasi produktif. Keempat segi tambahan ini adalah cinta yang produktif, pikiran yang produktif, kebahagiaan, dan suara hati. Karena cinta yang produktif menyangkut empat sifat yang menantang perhatian, tanggung jawab, respek dan pengetahuan. Mencintai orang-orang lain berarti memperhatikan (dalam pengertian memelihara mereka), sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan mereka, dan membantu pertumbuhan dan perkembangan mereka. Hal ini berarti memikul tanggung jawab untuk orang-orang lain, dalam pengertian mau mendengarkan kebutuhan-kebutuhan mereka juga orang-orang yang dicintai dipandang dengan respek dan menerima individualitas mereka, mereka dicintai menurut siapa dan apa adanya. Dan untuk menghormati mereka, kita harus memiliki pengetahuan penuh terhadap mereka, kita harus memahami mereka siapa dan apa secara objektif.
Pikiran yang produktif meliputi kecerdasan, pertimbangan, dan objektivitas. Pemikir produktif didorong oleh perhatian yang kuat terhadap objek pikiran. Pemikir yang produktif dipengaruhi olehnya dan memperhatikannya. Fromm percaya bahwa semua penemuan dan wawasan yang hebat melibatkan pikiran objektif, dimana pemikir-pemikir didorong oleh ketelitian, dan perhatian untuk menilai secara objektif seluruh masalah.
Orang-orang yang produktif ialah orang-orang yang berbahagia. Fromm menulis bahwa suatu perasaan kebahagian merupakan bukti bagaimana berhasilnya seseorang “dalam seni kehidupan”. Kebahagiaan merupakan prestasi (kita) yang paling hebat. Fromm membedakan dua tipe suara hati otoriter dan suara hati humanistis. Suara hati otoriter adalah penguasa dari luar yang diinternalisasikan, yang memimpin tingkah laku orang itu. Penguasa itu dapat berupa orang tua, Negara, atau suara kelompok lainnya yang mengatur tingkah laku melalui ketakutan orang itu terhadap hukuman karena melanggar kode moral dari penguasa. Suara hati humanistis ialah suara dari diri dan bukan dari suatu perantara dari luar. Pedoman kepribadian sehat untuk tingkah laku bersifat internal dan individual. Orang bertingkah laku sesuai dengan apa yang cocok untuk berfungsi sepenuhnya dan menyingkap seluruh kepribadian, tingkah laku-tingkah laku yang menghasilkan rasa persetujuan dan kebahagiaan dari dalam. Jadi, kepribadian yang sehat dan produktif memimpin dan mengatur diri sendiri.
Sebagai suatu masyarakat dimana tidak ada orang yang dieksploitasi atau dimanipulasi untuk suatu maksud lain selain untuk mencapi perkembangan diri yang maksimal. Dalam masyarakat yang akan datang ini, kemanusiaan kita akan menjadi fokus, gerakan-gerakan ekonomis dan politis akan bertujuan untuk membantu pertumbuhan dan fungsi yang penuh manusia. Cita-cita masyarakat ini ialah cinta, solidaritas manusia, dan persaudaraan, partisipasi yang bertanggung jawab dari setiap individu dalam kehidupannya sendiri dan dalam masyarakat, bimbingan tingkah laku menurut perasaan diri setiap orang dan penggunaan setiap manusia secara penuh dan produktif.
Kesimpulan
Kepribadian yang sehat menurut Erich Fromm adalah pribadi yang produktif yaitu pribadi yang dapat menggunakan secara penuh potensi dirinya. Kepribadian yang sehat menurut Fromm ditandai beberapa hal antara lain pola hubungan yang sehat (konstruktif), bukan atas dasar ketergantungan ataupun kekuasaan dalam hubungan dengan orang lain, kelompok, dan Tuhan. Transendensi (kebutuhan untuk melebihi peran-peran pasif, melampaui perasaan tercipta menjadi pencipta yang aktif-kreatif). Perasaan berakar yang diperoleh melalui persaudaraan dengan sesama umat manusia, perasaan keterlibatan, cinta, perhatian, dan partisipasi dalam masyarakat. Perasaan identitas sebagai individu yang unik. Memiliki kerangka orientasi (frame of reference) yang mendasari interpretasinya yang objektif terhadap berbagai peristiwa. Menurut tokoh lain, Viktor Frankl, hakekat eksistensi manusia terdiri dari tiga faktor, yaitu spiritualitas, kebebasan, dan tanggung jawab. Sama seperti Fromm, dan tokoh-tokoh lain yang menggambarkan kepribadian yang sehat (Carl Rogers, Maslow, Fritz Pearls), Frankl juga menegaskan faktor kebebasan/independency/otonomi (kebalikan dari ketergantungan). Kegagalan dalam menegakkan tiga faktor tersebut akan mengakibatkan frustrasi eksistensial yang ditandai oleh perasaan hampa/absurd (ragu akan makna hidupnya sendiri). Ada 4 segi tambahan dari kepribadian sehat yaitu cinta, pikiran, kebahagiaan, dan suara hati yang produktif. Cinta yang produktif adalah cinta yang memperhatikan serta membantu pertumbuhan dan perkembangan orang lain. Pikiran yang produktif adalah pikiran yang berfokus pada gejala-gejala dan mempelajarinya secara keseluruhan, bukan hanya dalam potongan-potongan. Suara hati yang produktif adalah suara hati yang memimpin dan mengatur diri sendiri. Cinta yang produktif adalah suatu hubungan manusia yang bebas dan sederajat dimana partner-partner dapat mempertahankan individualitas mereka. Diri orang tidak terserap atau hilang dalam cinta terhadap orang lain. Diri tidak berkurang dalam cinta produktif, melainkan diperluas, dibiarkan terbuka sepenuhnya. Suatu perasaan akan hubungan tercapai, tetapi identitas dan kemerdekaan seseorang terpelihara Cinta yang produktif itu merupakan suatu kegiatan dan bukan suatu nafsu. Cinta yang produktif tidak terbatas pada cinta yang erotis, tetapi mungkin merupakan cinta persaudaraan. Tercapainya cinta yang produktif merupakan salah satu dari prestasi-prestasi kehidupan yang lebih sulit. Mencintai orang-orang lain berarti memperhatikan (dalam pengertian memelihara mereka) kesejahteraan mereka, membantu pertumbuhan dan perkembangan mereka. Mencintai berarti memikul tanggung jawab untuk orang-orang lain. Fromm mengingatkan bahwa cinta yang produktif ini sukar dicapai. Pikiran yang produktif meliputi kecerdasan, pertimbangan, dan objektivitas. Pemikir yang produktif didorong oleh perhatian yang kuat terhadap objek pikiran. Pikiran yang produktif berfokus pada seluruh gejala dengan mempelajari dan bukan pada kepingan-kepingan atau potongan-potongan gejala yang terpisah. Fromm percaya bahwa semau penemuan dan wawasan yang hebat pasti melibatkan pikiran objektif. Kebahagiaan merupakan suatu bagian integral dan hasil kehidupan yang berkenaan dengan orientasi produktif. Kebahagiaan bukan karena suatu perasaan atau keadaan yang menyenangkan melainkan kondisi yang meningkatkan seluruh organisme, menghasilkan penambahan gaya hidup, meningkat kesehatan fisik, dan pemenuhan potensi-potensi seseorang. Fromm menyatakan bahwa suatu perasaan kebahagiaan merupakan bukti bagaimana keberhasilan seseorang ”dalam seni kehidupan”. Suara hati ada dua tipe suara hati, yaitu suara hati otoriter dan suara hati humanistis. Suara hati otoriter adalah penguasa dari luar yang diinternalisasikan, yang memimpin tingkah laku orang itu. Apabila orang itu bertingkah laku berlawanan dengan kode moral itu (atau bahkan berpikir untuk bertingkah laku demikian), maka dia mengalami perasaan bersalah. Jadi ’wasit’ dari tingkah laku dan pikiran terletak diluar diri dan bertindak untuk menghalangi fungsi dan pertumbuhan yang penuh dari diri.


Sumber :
Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan : Model-model Kepribadian Sehat. Alih Bahasa : Yustinus. Yogja : Kanisius.

Nama : Maria Rosa Prameswari
Kelas/NPM : 2PA10/14511293